Siaga 1

Diposting oleh Ironman | 21.20 | 0 komentar »

Selama ini kehadiran saya sudah menjadi bahan pembicaraan yang cukup hangat di bakti idhata,bahkan kadang mengarah kepada suatu obrolan yang panas dan mengundang sebuah topik untuk di perdebatkan. Memang sebagian orang menganggap bahwa keberadaan saya sedikit mengganggu untuk kepentingan beberapa pihak yang ingin menjalankan sebuah skema besar di bakti idhata. Sangatlah fatal bila sebuah sekolah pinggiran yang cenderung mempunyai murid yang saya rasa belum pantas berbicara dan berfikir secara Global (Global minded) di pakai untuk sebuah kegiatan "pengerukan" kepentingan pribadi yang bermotif baik ekonomi maupun power.

Sebagai seorang pengamat saya tidak memungkiri bahwa sebuah kekuatan ekonomi harus di dukung dengan power yang besar dan antara power serta ekonomi adalah dua elemen yang saling mendukung keberlangsungan satu sama lain.Tidak heran bila ada sebagian orang di bakti idhata sedikit mempermainkan dua elemen ini untuk sebuah kepentingan pribadi yang saya rasa tidak harus di bawa di dalam lingkungan pendidikan.Saya merasa bahwa hal-hal yang seperti itu bukanlah mental sesungguhnya dari seorang pendidik yang seharusnya di beri gelar pahlawan tanpa tanda jasa.

Hal yang sangat memalukan bukan? Saya banyak mendapat info via e-mail yang mengatakan begini dan begitu.namun karena blog ini ber azaskan fakta yang mendasar bukti-bukti itu tidak pernah saya buka sampai ada hal yang lebih menguatkan.Sangat di sayangkan bila seribu kebaikan yang ada di bakti idhata dapat sirna oleh ego beberapa orang yang menganggap diri mereka adalah orang yang pintar dan paling berguna. mungkinkah ini sebuah tanda kemerosotan kualitas dan moral baik murid dan pendidik di bakti idhata? mungkinkan calon guru di sekolah bakti idhata tidak melewati sebuah seleksi yang baik? hanya mereka yang bisa menjawab.

Memang saya mengakui bahwa bakti idhata kehilangan guru guru yang berkualitas dan berpengalaman.mungkin sekarang hanya ada segelintir guru yang berpengalaman yang mengajar di bakti idhata.kekurangan pengalaman untuk menghadap anak sekolah itu yang kadang membuat sikap para guru itu kadang lebih ke kanak-kanakan dari muridnya.mungkinkah ini siaga satu bagi sekolah yang dulu berlambang burung hantu ini? silahkan kalian simpulkan.



salam ironman


selamat menyambut 1 muharram bagi yang ber agama islam 1431 h

















Selamat tahun baru 2010









Selamat Natal 2009









semoga keragaman ini mempersatukan kita



salam ironman

Guru oh Guru-guru ku

Diposting oleh Ironman | 08.06 | 0 komentar »

Kadang tidak habis fikir saya melihat keadaan di sekitar yang ada. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Memang tidak akan pernah habis bila kita membahas sesuatu hal yang ada di sekitar kita,hal itu bisa keadaan sosial,ekonomi atau politik. Lain hal nya di dalam dunia pendidikan. Banyak hal yang menarik untuk di telaah maupun di analisis. Memang kehidupan putih abu-abu memang penuh warna dan cerita yang menarik dari permasalahan guru hingga kepada para senior sekolah.

Dalam kesempatan ini saya ingin membicarakan bagaimana tindak tanduk guru di dalam sekolah, terutama sekolah bakti idhata. Memang sulit untuk menghindar dari banyak tuduhan jikalau tulisan ini di tuduh sebagai hal yang provokatif . memang banyak hal yang menarik di dalam lingkungan ke’guruan’ bakti idhata. Seperti yang saya sudah pernah tulis di tulisan-tulisan saya sebelumnya guru selalu menjadi tokoh sentral permasalahan di bakti idhata. Memang tidak bisa menyalahkan guru secara full tetapi dalam berbagai hal mereka mempunyai peranan yang sangat penting terhadap sebuah permasalahan.

Ada banyak contoh yang bisa kita ambil mulai dari kasus “uang haram”,pemukulan,percintaan,hingga rasa keinginan di hormati secara berlebih. Secara khusus saya akan membicarakan kasus yang terakhir. Memang seakan sangat lucu bila ada guru yang selalu minta di hormati.tidak salah memang bila seseorang ingin di hormati tetapi setiap orang harus berusaha menarik simpati orang lain atau setidaknya berbuat hal yang positif untuk di hormati.

Sudah sepantasnya memang guru di hormati oleh murid hal tersebut memang menjadi kewajiban murid sebagai pelajar yang tidak lain merupakan bentuk nyata dari implementasi sopan santun yang di ajarkan oleh gurunya. Ada kasus menarik yang terjadi di bakti idhata dimana ada seorang guru yang ingin mendapat rasa hormat dari murid tetapi mengambil jalan yang salah dengan cara menerapkan pola KEKERASAN. Tentunya hal ini tidak akan mendapat simpati dari murid bahkan cenderung menimbulkan rasa benci yang menahun.

Sudah sepantasnya guru-guru mengubah pola pendekatan mereka terhadap muridnya masing-masing. Guru harus jadi pengayom yang baik di dalam sekolah, niscaya bila hal ini terjalani dengan lancar maka muridpun juga akan merasa nyaman berada di sekolah tanpa harus takut menghadapi ancaman yang datang dari gurunya sendiri. Akan sangat menggembirakan sekali bila suatu saat kita tidak melihat kekerasan lagi di bakti idhata yang melibatkan guru maupun murid.